UNISMA Bekasi dan FKSB Selenggarakan MoU dan MoA dengan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)

Bekasi-  Bertempat di gedung Pascasarjana, Kamis (14/12), Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa (FKSB) mengadakan penandatangan nota kesapahaman MoA dan MoU dengan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) di bidang Tri Dharma Pegururan Tinggi. Sekaligus Kuliah Umum mengenai Peluang Karir Profesi Penerjemah Pada Era Globalisasi. Kuliah umum ini bertujuan untuk membuka mata para mahasiswa bahwa pekerjaan ahli bahasa dapat menjadi pekerjaan yang cukup menjanjikan.

Acara tersebut dibuka oleh Wakil rektor bidang III Ilyas Sikki. Menurutnya, acara ini merupakan kegiatan yang baik dan produktif  bagi para mahasiswa Sastra Inggris. Diharapkan selain melatih keterampilan mahasiswa di bidang penerjemahan juga dapat membangkitkan motivasi mahasiswa menjadi penerjemah.

“Harapannya mahasiswa UNISMA terutama prodi Sastra Inggris selain punya kemampuan hardskill tapi juga softskill yang mumpuni di bidang alih bahasa (terjemahan). Serta berani menjadi penerjemah bahkan bisa menjadi peluang wirausaha,” ucap Ilyas Sikki saat memberikan sambutan.

Senada dengan hal di atas Dekan FKSB Endang S. Priatna menyampaikan melalui kuliah ini para mahasiswa bisa mendapatkan gambaran mengenai profesi penerjemah dari praktisi lapangan.

“Penerjemah itu bukan pekerjaaan sampingan melainkan menjadi profesi utama bahkan menjanjikan. Melalui kegiatan ini nanti ada kejelasan yang lebih mendetail. Apalagi mengahadapi dunia global dimana bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris.,” kata Endang S. Priatna.

Selama ini yang orang awam tahu pekerjaan ahli bahasa biasanya berhubungan dengan buku terjemahan. Padahal banyak sekali ladang yang bisa dimanfaatkan ahli penerjemah. Hal itu disampaikan oleh Anna Wiksmadhara, penerjemah profesional bidang Hukum dan Industri Migas.

“Penerjemah itu banyak sekali ladangnya, tidak mesti melulu buku, bisa dokumen, pidato, atau penerjemah lisan. Saya pernah bekerja di perusahaan migas sebagai penerjemah dokumen perusahaan, kemudian saya juga pernah menjadi penerjemah dokumen tingkat kementerian bahkan pidato presiden dan bayarannya itu cukup menjanjikan,” papar Anna saat mengisi kuliah umum.

Dalam ulasannya secara umum ada dua macam penerjemah yaitu penerjemah lisan dan tulisan. Sedangkan dari jenisnya  ada delapan (8) ragam penerjamah. Itupun belum termasuk spealiasi bidang terjemahan (misal: keuangan, pervankan dll.)

Anna mengaku pernah menterjemahkan dokumen suatu perusahaan yang berjumlah 100 halaman. Saat itu, untuk satu halamannya Anna dibayar 150 ribu rupiah. Jika dikalikan maka untuk satu dokumen tersebut ia dibayar sebesar 15 juta rupiah. Sedangkan Anna mengatakan ia mampu menyelesaikan 4 dokumen sebulannya.

Dari nominal tersebut terlihat sekali bahwa profesi ahli bahasa bisa sangat menjanjikan. Apalagi di tingkat pejabat tinggi, penerjemah memiliki peran yang sangat strategis. Seperti yang dikemukakan oleh Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Hananto P. Sudharta.

“Ahli bahasa atau penerjemah memiliki peran yang very strategic. Haram seorang ahli bahasa salah menerjemahkan apalagi jika tingkatannya adalah menerjemahkan pidato pejabat di forum internasional,” kata Hananto.

Sehingga profesi penerjemah selain menjanjikan tentu ada tanggung jawab besar disana. Menyadari hal itu maka selain menggelar kuliah umum, FKSB juga mengadakan pelatihan penerjemahan dengan HPI.

Diharapkan dengan pelatihan bersama HPI sebagi himpunan penerjemahan terbesar di Indonesia mampu menambah keterampilan yang dimiliki oleh mahasiswa sastra inggris. (HUMAS UNISMA Bekasi).